Merdeka.com - Pemerintah Malaysia secara terbuka menolak kedatangan ratusan pengungsi etnis Rohingya yang kabur dari pembantaian massal di Myanmar. Nasib para pengungsi ini semakin tidak pasti. Sebelumnya 581 orang yang terdampar di Aceh Utara menolak bertahan di Indonesia. TNI mengklaim etnis muslim ini hanya mau ke Malaysia demi mencari pekerjaan menyusul ratusan rekan mereka.
menyatakan pihaknya tidak bersedia menampung ribuan pengungsi Rohingya yang ingin mendarat di Langkawi.
"Kami tidak akan membiarkan kapal asing masuk, Kecuali kapal rusak dan tenggelam. Angkatan laut akan menyediakan keperluan dan (kembali) menyuruh mereka pergi," kata Laksmana Tan Kok Kwee dari Angkatan Laut Malaysia, seperti dilansir Sydney Morning Herald, Rabu (13/5).
Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Malaysia Alwi Ibrahim menyatakan protes halus pada Myanmar dan Thailand karena secara tak langsung memuluskan jalan ribuan warga Rohingya itu memasuki perairan mereka.
Negeri Jiran makin khawatir, mengingat Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang bernaung di bawah PBB menyatakan jumlah pengungsi Rohingya telah berada di kapal menuju Malaysia, mencapai 8.000 orang. Sementara ini 1.158 orang mendarat di Langkawi.
"Untuk memastikan tidak terulangnya insiden (penyelundupan manusia), kami akan meminta diskusi dengan Bangladesh dan Myanmar," kata Alwi.
Rencananya hari ini TNI akan memfasilitas pemulangan ratusan orang Rohingya ke Selat Malaka setelah sebelumnya terdampar akibat kehabisan bahan bakar. Sejak akhir pekan lalu, warga Rohingya itu ditampung di Stadion Lhoksukon, Ibu Kota Aceh Utara. Ada 51 anak-anak dalam rombongan yang terlunta ini.
IOM menyatakan ribuan warga Rohingya itu ditipu oleh calo imigran. Mereka dijanjikan bekerja ke Malaysia lalu diangkut menggunakan kapal. Tapi pada Sabtu (9/5), muncul masalah karena mereka tidak dibekali dokumen. Angkatan Laut Thailand pun menghalau mereka ke Malaysia dan Indonesia. Sebagian rombongan terdampar ke Aceh Utara.
TNI mengklaim mereka tidak akan mengusir warga muslim Rohingya dari Aceh. Masalahnya, mereka sendiri yang minta diantar ke perairan Malaysia. "Mereka (ke perairan Aceh) karena butuh bantuan. Mereka tidak ingin ke Indonesia, mereka ingin ke Malaysia," kata Jubir TNI Manahan Simorangkir.
LSM Arakan Project berharap negara-negara Asia Tenggara bisa memberikan solusi nyata pada ribuan warga Rohingya yang kini terombang-ambing di laut. Mereka berdesak-desakan di perahu tanpa makanan, air bersih, dan obat-obatan.
"Mereka bisa melihat daratan tapi tidak tahu di mana mereka berada. Kita tidak bisa membiarkan orang-orang ini mati di laut," kata Jubir Arakan Project, Chris Lewa.
Warga muslim Rohingya itu tidak bisa pulang ke Myanmar, Tanah Air mereka, lantaran diusir oleh etnis mayoritas Rakhine yang beragama Buddha. Konflik bernuansa sentimen etnis pecah di pesisir Myanmar pada 2012, memakan korban ribuan orang. Ketika konflik muncul pertama kali, Bangladesh yang mayoritas muslim juga ogah menampung warga Rohingya.
[ard]
This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at http://ift.tt/jcXqJW.
from Merdeka.com http://ift.tt/1G5uwii
via Iklan Baris, Berita Terbaru
0 comments:
Post a Comment